Wujudkan Rumahku-Surgaku, Bunda

Assalamu’alaikum, hai hai.. Lama yaa saya gak nulis. hehe.. Okay, dalam rangka mager dan keinginan untuk bayar hutang alias janji ke seorang kawan tentang materi pengajian, yuks langsung cap cuz ke materi yang didapet yaa.. 😉

Sebenernya pengajian ini saya ikuti dengan niatan biar siap jadi istri dan ibu yang baik. Yaa namanya juga bakal jadi istri dan ibu kan nantinya. hehe.. Saya lebih prefer tau ilmunya dulu sebelum praktek. Jadi pas praktek setidaknya sudah punya gambaran harus bagaimana dan sudah tau koridornya apa. Macam setidaknya tau Do and Don’t nya lah yaa..

img_38401

Ustadzah Tan Mei Hwa sedang menyampaikan materi

 

Pagi itu, pengajian dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Pemateri hari itu memang yang saya suka sih Ustadzah Tan Mei Hwa. Cara pembawaan materi serta pembahasan beliau atas pertanyaan yang diajukan kami sangat mengena dan mudah diingat. Penjelasannya mudah diingat dan aplikatif. Di awal materi, beliau mengutarakan tentang apa sih tujuan berumah tangga itu.

Tujuan Berumah tangga itu agar manusia tentram. Manusia diciptakan berpasang-pasangan agar tentram. Terayomi, terlindungi, tentram di sisi pasangan.

sesuai dengan Al-Qur’an Surat Ar-rum ayat 21 :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum : 21)

Karena ini materinya lebih pas buat yang akan menikah dan mencari jodoh (gue banget kan. hahaha), nah beliau juga memberikan bagaimana cara memilih jodoh yang baik. Tapi di sini sih yang dimaksud memillih istri sih yaaa. Pilihlah istri karena rupa, harta, nashab (latar belakang keluarga), agamanya. Tetapi yang utama pilihlah karena agamanya sesuai dengan Hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

“Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, engkau akan bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada 4 (empat) pilar dalam berumah tangga yaitu :

  1. Akidah ; hal ini tentang keimanan kita kepada Allah. Hal ini yang menjadikan mawaddah wa Rahmah tercapai. Apa sih Mawaddah wa Rahmah ini? Implementasi dari Mawaddah wa Rahmah ini adalah sikap saling menjaga, melindungi, saling membantu, memahami hak dan kewajiban masing-masing.Jadi istilahnya ni kita cinta, berkasih sayang tapi dengan landasan akidah jadi bukan cinta buta gitu. Tapi cinta yang masih inget akan Maha Pencipta dan Pemilik Cinta yakni Allah SWT.
  2. Kasih Sayang
  3. Akhlak (Akhlak yang baik)
  4. Do’a

Suami tidak boleh menyakiti istri yaa meskipun dengan kata-kata / verbal. 🙂

Oh iya, gimana kalau wanita karir? Sah, istri bekerja dan hukumnya Mubah sebatas suami mengijinkan / meridhoi. Nah, status penghasilan istri menurut ajaran Islam adalah milik pribadi. Ketika penghasilan istri digunakan untuk membantu kebutuhan rumah tangga, maka itu bagian dari shodaqoh istri.

Tips yang didapat untuk menjaga kebahagian rumah tangga adalah :

  1. Yang boleh tau kekurangan pasangan kita ya hanya kita. Jangan diceritakan ke pihak lain. Hanya kita (TITIK). 🙂
  2. Sholat berjama’ah diimami oleh suami (ketika suami tidak sedang atau berhalangan untuk ke masjid). Secara tidak langsung cara ini akan menjadikan sarana bagi orang tua untuk memberikan contoh atau mengajarkan sholat pada anak-anaknya.
  3. Tugas istri yaitu menjadi istri yang sholiha. Temasuk menjaga inner dan outer beauty untuk suami. Taat jika diperintah suami (dalam hal kebaikan only loh yaa). Pandai menjaga kehormatan. Salah satu cara agar kehormatan kita senantiasa terjaga adalah dengan terus berdzikir agar ketika di luar rumah kita tetap dalam penjagaan Allah SWT. Ketika suami bekerja, isti membantu dengan melaksanakan sholat Dhuha agar keduanya dan keluarganya selalu dalam lindungan Allah SWT.
  4. Suami dan istri harus jujur satu sama lain. That’s the reason why ketika seseorang bercerita tentang mau pergi ke sini boleh ga ya? Saya akan selalu tanya, “Kalo menurut suami mbak gimana?” 😀 Bukan apa-apa, secara tidak langsung saya mengingatkan sahabat aja kok kalo yang harus diberitahukan awal itu suami sebelum yang lain dan mintalah ijin terlebih dahulu pada suami. 🙂

Kewajiban orang tua pada anak yaitu :

  1. Memberikan nama yang baik.
  2. Menjaga akidah anak.
  3. Membantu anak untuk amar ma’ruf nahi mungkar (mengamalkan kebaikan dan menjauhi keburukan).

Kala itu ada pertanyaan dari jama’ah pengajian tentang syarat nikah. Jadii syarat sah nikah itu terdapat mudin alias penghulu, wali nikah, dan saksi nikah. Apabila calon istri tidak memiliki wali sama sekali, contoh ketika orang tua berbeda agama dan keluarga ayah pun berbeda agama dengan si calon istri, maka walii nikah akan digantikan oleh wali hakim.

Istri memiliki hak gugat dan suami memiliki hak talak. Duuh, makanya ni yaa yang cowok dijaga kata-katanya jangan sampai jatuh talak. Kata-kata apa sih yang bisa jatuh talah, selai kata “Cerai” kata “Pulang sana ke rumah orang tuamu.” dapat menjatuhkan talak. Maka tolong berhati-hati yaa wahai para lelaki atas lisanmu.

Eh iyaaa, ada yang saya suka lagi dari penyampaian pengajian kala itu. Tentang filosofi kenapa sih Allah menciptakan 1 (satu) mulut, 2 (dua) mata, 2 (dua) telinga, 2 (dua) tangan, dan 2 (dua) kaki? Agar kita banyak mendengar, banyak melihat, banyak meraba, banyak merasa, lalu bijaksana dalam bertindak dan melangkah, serta tidak banyak bicara. 🙂

Sekian resume yang bisa saya sampaikan dari pengajian hari itu yaa teman-teman. Semoga kita diberikan kekuatan dan kemampuan untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah yang dilingkupi rahmat Allah. Aamiin.. 🙂

Semoga yang sedikit ini bermanfa’at yaaa…

 

Traveling Aman di Kota Batam

It’s been a long time. I’ve never been writing in this blog. hahaha.. Terlampau lama sampai lupa. OMG. Pardon me, guys. Anyway, terima kasih kepada seseorang yang pada malam itu di perjalanan via pembicaraan di dalam mobil, mengingatkan saya akan kesukaan saya membaca buku dan menulis. Membaca buku sampai hari ini pun saya masih lakukan, at least one book a week. Tapi kalau untuk menulis…. Sekarang lebih banyak mencatat di buku catatan kecil bukan lagi di blog macam begini. Nah, mumpung sekarang lagi ada waktu dan kesempatan, dan sudah diingatkan oleh seseorang dengan pertanyaan sekaligus pernyataannya malam itu. Jadii, saya memutuskan menulis di blog ini kembali, memindahkan tulisan dari buku catatan kecil saya. hehe.. Oke, let’s start.

Di awal bulan April tahun ini. Saya mendapatkan surat perjalanan dinas luar kota. Daan kali ini saya berkesempatan ditugaskan ke daerah perbatasan negara tercinta kita ini dengan Malaysia dan Singapura. Kota ini berbatasan laut dengan kedua negara tersebut. Kota industri di kepulauan Riau. Kota Batam.

Seperti menerima surat tugas biasanya, yang saya rasakan yaa biasa saja. hahaha.. Namanya juga tugas. Ya kaan.. Hanya kali ini saya agak takut karena dipicu oleh beberapa hal. Pertama adalah karena ini kali pertama saya ke kota ini. Kedua adalah saya harus stay di kota ini lebih dari satu hari bahan lebih dari tiga hari. Ketiga dan merupakan yang terakhir adalah teman-teman saya yang ditempatkan di daerah ini pasti akan berakhir dengan resign. 😐 Sudah macam-macam hal buruk di kepala. Tapi dalam hati saya terus bilang bahwa Allah Sebaik-baik Pelindung (QS. Ali – Imran : 173).

Tiba hari keberangkatan saya ke kota Batam. Saya selalu memilih flight pagi jika Solo Travelling ke kota yang belum pernah saya datangi sebelumnya agar tidak sampai malam hari sesampainya di kota tujuan. Saya memilih menggunakan maskapai Garuda Indonesia Airlines yang selalu memiliki kepuasan penerbangan tingkat wahid dengan jadwal penerbangan jam 9.20 WIB dari bandara Juanda Surabaya. Untuk flignt dari bandara Juanda Surabaya menuju bandara Hang Nadim Batam dengan maskapai yang saya pilih ini tidak ada Direct Flight. Jadi saya harus transit terlebih dahulu di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Satu jam selisih antara jam keberangkatan ke bandara Hang Nadim dengan jam kedatangan saya di bandara Soekarno Hatta. Awalnya saya mengira ini akan banyak waktu di bandara Soekarno Hatta. Ternyata perkiraan saya salah total. Saya harus lari-lari ke bagian petugas transit maskapai lalu kemudian maksud hati sih setelah check in transit, saya sholat Dzuhur terlebih dahulu. Tapi ternyata baru saja saya selesai wudhu, sudah ada panggilan untuk boarding. Akhirnya saya memutuskan untuk menjama’ ta’khir sholat Dzuhur saya di waktu Ashar sesampainya di Batam nanti.

Alat transportasi dari bandara Hang Nadim ini gampang-gampang susah. Banyak taksi bertebaran memang, hanya saja banyak taksi gelap di Batam. Taksi Blue bird pun jarang saya temui. Karena saya Solo Traveling akhirnya berdasarkan informasi yang saya baca sebelum saya berangkat ke Batam. Kalau dari bandara Batam pilih taksi Silver Cab, ini relatif aman. Tarifnya berdasarkan argo meter, lalu ada alat pencetak struk di dalam taksi. bagi teman-teman yang akan bepergian ke Batam dan memutuskan untuk menggunakan taksi Silver Cab, silahkan telp ke no. ini yaa.. : 0778 461000

Taksi di Batam yang tidak berargo ini kebanyakan berupa seperti mobil pribadi dengan plat mobil hitam. Untuk taksi tak berargo ini tarifnya sesuai dengan kesepakatan antara penumpang dan sopir taksi. Selain itu jangan kaget ketika di tengah perjalanan, akan ada orang lain lagi yang naik taksi yang sama dengan kita. Karena sopir taksi diperbolehkan mencari dan menaikan penumpang dalam perjalanan yang searah dengan perjalanan kita.

Sesampainya saya di hotel pun masih kaget dengan suasana Batam pada malam hari. Saya menginap di salah satu hotel bintang 4, Harmoni Hotel Nagoya Batam. Sesampainya di hotel saya langsung masuk kamar sholat Ashar sekaligus dan menjama’ ta’khir sholat Dzuhur saya lalu istirahat. Selepas Maghrib barulah saya memutuskan untuk membeli sesuatu ke minimarket di belakang hotel. Selama perjalanan pemandangan yang tersaji adalah deretan cafe remang-remang dengan plakat minuman keras bertengger di teras cafe. Tak jarang wanita dengan pakaian minim keluar masuk lalu lalang di sana. Hingar bingar musik clubbing menyeruak, jujur saya takut dengan kali ini. Akhirnya saya pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan tujuan saya langsung pada area swimming pool sebelum kembali ke kamar, meski hanya berniat untuk melihat suasana saja

IMG_0223[1]

View area Swimming pool Harmoni Hotel Nagoya pada malam hari 😊

IMG_0056[1]

Penampakan kamar tempat saya beristirahat di Harmoni Hotel Nagoya, Batam

Keesokan hari saya menyusun rencana agar dapat mengeksplor kota Batam, memanfa’atkan waktu setelah berkegiatan sesuai tujuan perjalanan dinas. Alhamdulillah.. akhirnya saya ada teman eksplore Batam teman-teman satu instansi dari penempatan wilayah lain yang memiliki tujuan perjalanan dinas sama, kami memutuskan untuk mencicipi makanan olahan hasil laut kota Batam. Berbekal hasil browsing dan berdasarkan rekomendasi bapak sopir taksi yang saya tumpangi tadi saat perjalanan dari bandara ke hotel, kami memilih salah satu restoran di daerah Bengkong Laut Batam.

IMG_0074[1]

Taraaa.. Inilah restoran seafood yang saya pilih berdasarkan hasil googling dan sekaligus rekomendasi bapak sopir taksi

Restoran Golden Prawn 555 merupakan restauran berkonsep life seafood, artinya para pengunjung dapat memilih ikan, udang, dan hewan laut lainnya secara langsung dari dalam kolam di restoran tersebut untuk kemudian diolah sesuai menu makanan yang dipilih dari yang tertera di daftar menu makanan. Sehingga makanan yang diolah dalam keadaan fresh. Soal harga makanan seafood ini tergolong murah. Untuk kepiting berkisar antara 30 ribu hingga 50 ribu satu porsi. Untuk menu udang berkisar 20 ribu hingga 30 ribu satu porsi. Harga ini sesuai dengan jenis bumbu olahan makanan. Di sini pun terdapat Gonggong, sejenis siput makanan khas Kepulauan Riau. Soal rasa, restauran ini highly recommended. Enyaaak.. Rempah-rempah berasa. Oh iya, restauran Golden Prawn ini sebenarnya dibagi menjadi 2, yaitu Golden Prawn 933 dan Golden Prawn 555 yang berada dalam satu management yang sama.

Dikarenakan waktu yang sangat terbatas. Saya mengurungkan diri untuk melanjutkan perjalanan ke Singapore dengan menyeberang perairan kepulauan Riau dengan kapal feri. Akhirnya saya dan teman saya pun memanfa’atkan toleransi extend satu hari dari kantor untuk berkeliling pulau Batam.

Tujuan pertama kami adalah jembatan Barelang. Jembatan Barelang terdapat 6 bagian jembatan yang masing-masing jembatan menghubungkan masing-masing pulau (ada 7 pulau yang dihubungkan). Jembatan Barelang ini Pembangunannya diprakarsai oleh bapak BJ. Habibie untuk meningkatkan laju ekonomi Kepulauan Riau, agar para penduduk pulau-pulau ini dapat menjual hasil laut dan hasil tanamnya, serta komoditas di masing-masing pulaunya dengan cepat ke kota Batam dan ke daerah lainnya. Subhanallah pak Habibie ini yaa amal jariyahnya melimpah.. 😊

IMG_0501[1]

Saya di sisi samping jembatan Barelang 2

Saya dan teman saya diantar pak sopir taksi yang mendadak menjadi tour guide saya selama 2 hari ke jembatan Barelang 2 atau yang disebut juga dengan nama Jembatan Narasinga yang menghubungkan Pulau Tonton dan pulau Nipah. Jadi setelah pulau Batam, ada pulau Tonton lalu pulau Nipah. Untuk jembatan Barelang yang menghubungkan pulau Batam dan pulau Tonton disebut jembatan Tengku Fisabilillah.

Perjalanan saya berlanjut ke ikon kota Batam selanjutnya.

IMG_1019[1]

Uwalaaa… This is it. The iconic place in Batam – Batam Centre. Saya pose dulu lah. hihi

Batam Centre merupakan ikon kota Batam selain Jembatan Barelang. Di Bukit Batam Centre ini terdapat monumen tulisan “Welcome to Batam” sejenis “Hollywood” sign yang ada di Mount Lee kawasan pegunungan Santa Monica, Los Angeles, California atau yang lebih dikenal dengan Hollywood Hills itu. Belum ke Batam kalau belum ke Batam Centre. Belum ke Batam kalau belum ke Jembatan Barelang. hehe..

Eh iya, monumen tulisan “Welcome to Batam” ini berdiri kokoh di Bukit Clara, Batam Centre. Jaraknya kurang lebih 300 meter dari Masjid Agung kota Batam dan kantor Walikota Batam atau juga dari dataran Engku Putri. Monumen ini dimaksudkan menyambut para wisatawan atau pengunjung kota Batam. Monumen tulisan ini menghadap langsung ke terminal Feri Internasional Batam Centre.

Sebelum kembali ke bandara, saya dan teman-teman mampir ke Pantai Nongsa sembari memanfa’atkan waktu yang tersisa. Keindahan pantai ini sangat menghipnotis setiap pengunjung, apalagi ketika kita menyebrang dengan perahu wisata dari Pantai Nongsa ke Pulau Putri. Pulau ini eksotis sekali. Berjarak kurang lebih 14 km atau dapat ditempuh selama kurang lebih 20 menit ke Bandara Hang Nadim – Batam. Jadi pantai ini cocok untuk rute terakhir sebelum kita menuju ke Bandara untuk kembali ke wilayah asal kita.

IMG_0576[1]

Sesampainya di Pantai Nongsa, teman saya mulai berpose dengan latar pemandangan pantai Nongsa

IMG_0854[1]

Inilah perahu yang mengantarkan kami menyebrang menuju pulau Putri

IMG_0587[1]

Teman saya lainnya berpose di salah satu sisi pulau Putri, pantai Nongsa.

IMG_0850[1]

Salah satu sudut pandang pantai Nongsa, dari pulau Putri.

Sebelum saya akhiri tulisan saya. This are the Do and Don’t, traveling di kota Batam :

” THE DO ” :

  1. Ketika sampai di bandara, sembari menunggu bagasi keluar. Alangkah baiknya kita telepon taksi terlebih dahulu untuk menghemat waktu agar tidak buang-buang waktu untuk menunggu kembali. Taksi aman yang dapat masuk ke Bandara Hang Nadim kota Batam, Silver Cab di nomor : 0778 461000.
  2. Ketika bapak sopir taksi yang mengantarkan kita dari bandara ke tempat tujuan sekiranya bisa menjadi tour guide yang baik dan sopan dengan kita, minta nomor telepon beliau untuk nantinya mengantarkan kita mengeksplore kota Batam. Lakukan negosisasi dengan baik.
  3. Jika tidak ingin naik taksi. Lebih baik pilih trans Batam sebagai transportasi aman lainnya. Browsing atau cari informasi tentang rute trans Batam.
  4. Atur waktu sebaik mungkin. Kota Batam tidak terlalu luas, sehingga kita dapat eksplore dalam waktu sehari.
  5. Untuk wisata belanja. Saya tidak merekomendasikan membeli tas di sini, karena harganya sama saja. Lebih baik pilih jam tangan, kaos, alat elektonik, dan terutama coklat untuk belanja. Tempat wisata belanja Batam dengan harga murah adalah di Nagoya Hill Shopping Mall dan Plaza Top 100 Penuin Batam (untuk coklat dan oleh-oleh sandang dari luar negeri) lalu Batam City Square (untuk jam, sepatu,baju, aksesoris).

 

” THE DON’T ” :

  1. Jangan naik sembarang taksi yang manggal di bandara, karena banyak taksi gelap yang beroperasi di Kota Batam, di mana penumpang lain bisa masuk ke dalam taksi kita.
  2. Jangan keluar malam hari seorang diri ketika tidak ada teman yang akan diajak mengeksplore kota Batam, kecuali kita sangat paham dan hafal jalan serta tempat aman di kota Batam. Hal ini karena di beberapa titik kota Batam berada jajaran-jajaran kawasan hiburan malam.
  3. Jangan terlalu banyak membeli elektronik dari Batam. Ini akan bisa jadi masalah ketika di bandara. Kecuali bisa kita gunakan sekaligus atau kotak barang tersebut bisa dibuang.
  4. Jangan naik angkutan umum selain Trans Batam dan Taksi resmi seperti Blue Bird dan Silver Cab, jika belum hafal kota Batam serta paham karakter orang kota Batam.

 

Sekian tulisan dari saya. Semoga bermanfa’at dan menjadi informasi untuk traveling dengan aman ke kota Batam. Salam Traveler! Salam Jilbab Traveler! Mari nikmati dan syukuri setiap jengkal kehidupan yang diberi Ilahi. 🙂

Continue reading

Bener Ga Sih Mu’jizat?

“Setelah dinyatakan dokter ada kelainan dalam sel telurnya ternyata mereka dikaruniai keturunan. Tahun ini dia diberi mu’jizat Tuhan.”

Melewati sebuah televisi di ruangan usai melaksanakan shalat Ashar, telinga tak sengaja menerima kata-kata narator infotainment. Ada sesuatu yang sedikit mengganggu di telinga. Sayangnya, tak mampu menginterupsi.

Keesokan harinya seorang teman mengalami hal yang luar biasa.

“Iya, Alhamdulillah ga ada apa-apa. Bener-bener mu’jizat.”

“Keajaiban.”, aku berusaha meluruskan meskipun belum memiliki bahan memadai.

Bener ga sih mu’jizat? Apa iya kejadian luar biasa pada siapa pun manusianya itu disebut mu’jizat? Pertanyaan itu terus mondar mandir di kepala.

Lalu tiba pada suatu Sabtu, tepatnya di malam minggu. That’s Pengajian Rutin Masjid Raya Baitur Rahman Timeeee.. Yup, that’s the way I spend my satnite since a year ago. Yak mulailah berlaku hidup pas pas-an ku. Pas ada pertanyaan, pas ada jawaban. *senyum mengembang* Pas banget malam minggu ini, pak ustadz sedang sedikit membahas jawaban dari pertanyaan yang agak lama bersarang di kepalaku.

Apa sih mu’jizat itu? Yuk kita bahas satu per satu. Karena ayahku menurunkan cara berpikir terstruktur dan sistematis, jadi yuk bahas poin per poin. 😀

  1. Mu’jizat, 

    Apa sih mu’jizat itu? Mu’jizat adalah kelebihan atau sesuatu yang luar biasa dari Allah SWT kepada para Nabi dan utusan-Nya (Rasulullah).  Mu’jizat terakhir yang ‘diproduksi’ Allah yaitu Al-Qur’an pada Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Mu’jizat ini berlaku selamanya, sebut saja long lasting mu’jizat. Sedangkan mu’jizat pada Nabi-nabi yang lain, hanya berlaku pada masanya. Jadi, mu’jizat tidak ada atau tidak terjadi di era kita sekarang ini.

  2. Karamah, 

    Nah kalau Karamah itu apa? Karamah ini adalah kelebihan atau sesuatu yang luar biasa dari Allah SWT kepada para sahabat Rasul dan waliyullah. Termasuk para wali songo.

  3. Maunah, 

    Nah, ini barulah yang mungkin kita temui di era sekarang atau pun di masa depan. Maunah adalah kelebihan atau sesuatu yang luar biasa dari Allah SWT kepada orang-orang Shalih dan pasti beriman kepada Allah SWT.

  4. Istidroj, 

    Dan bisa jadi ini pula yang kita temui di era sekarang atau pun di masa depan. Istidroj adalah kelebihan atau sesuatu yang luar biasa dari Allah SWT kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT (non-muslim). Hal ini menunjukkan betapa pemurahnya Allah SWT.

 

Akhirnya terjawab sudah pertanyaan itu. Tak mondar mandir lagi di kepalaku. Aku bisa meluruskan dengan bahan yang memadai sekarang. Siap menjelaskan.

 

Sekian.

 

Nah, itu sedikit cerita dan sharing ilmu dari majelis yang saya ikuti. Jangan pada salah lagi yaa. Yuuk kita sama-sama perbaiki, teman-teman. Semoga tulisan saya yang sedikit ini bermanfa’at yaa.. ^^

Gua Batu Bantimurung – Setepak Jejak Penyebaran Berkas Cahaya

“Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” – Sang Pemimpi, Andrea Hirata –

Assalamu’alaikum.. Hi fellas! Hi para backpacker Indonesia tercinta! 😀
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Dan Syukur Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk kembali menapaki impian yang berputar di kepala saya dulu kala. Impian seorang anak muda, perempuan, untuk kembali mengadakan perjalanan. Terutama perjalanan alam. I just wanna be the one of Indonesian Jilbab Traveler. hehe..
Okay, here we goooo…

This is caving tiimmmeeee!!
Did you remember about Gua Batu? Ada yang pernah tau? Gua Batu Maloi yang terletak di negeri Sembilan, Kuala Lumpur Malaysia. Yup, ini Gua Batu yang identik dengan penyebaran agama Hindu. Nah, sekarang kita ga lagi bahas ini punya negara sebelah. Tapiii bahas milik negeri kita sendiri yang ga kalah bagusnya braaay. Gua Batu ini terletak di wilayah bagian tengah negeri kita. This is Gua Batu Bantimurung. Gua Batu ini terletak di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Perjalanan menuju ke sana membutuhkan sekitar 1,5 jam sampai 2 jam dari bandara udara Sultan Hassanudin, Makassar, Sulawesi Selatan. Ini dengan catatan tidak terjadi hal-hal yang “iya-iya” lho yaa.. hahaha.. Seperti yang terjadi pada perjalanan pulang saya, dimana sempat sedikit terganggu dengan adanya insiden truk container yang bagian atas container-nya tersangkut batang pohon. Jika kita hendak pergi ke kabupaten Maros, maka dari bandara Sultan Hassanudin-Makassar kita bisa naik Panter. Panter ini bukan hewan buas itu loh yaa dan juga bukan salah satu brand mobil. hehe.. Panter ini sebutan untuk mobil-mobil berplat kuning yang membawa kita ke kabupaten-kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, dari kota Makassar. Mobil ini ada dalam berbagai brand dengan jenis mobil SUV dan mini bus, misal Innova, Panther, Avanza, Kijang, dkk dah pokoknya.

Selama perjalanan menuju ke sana saya disuguhi pemandangan rumah-rumah adat warga Suku Bugis berbentuk panggung kayu. Masih banyak warga di sana yang menggunakan rumah adat ini. Alhamdulillah masih terpelihara kelestarian budaya negeri kita tercinta ini. Karena Bantimurung merupakan wilayah perbukitan, udara di kawasan ini otomatis masih sejuk. Untuk sampai ke Gua Batu yang berada di perbukitan kapur, saya harus menempuh perjalanan menanjak yang jauhnya sekitar kurang lebih 1 km dari lokasi air terjun Bantimurung. Tidak semuanya menanjak, dan cenderung banyak jalan setepak yang landai. Tapi untuk sisi-sisi tanjakan bisa dikatakan lumayan curam. Sepi, itu suasana yang saya rasakan selama berjalan menuju Gua Batu Bantimurung dari lokasi Air Terjun Bantimurung. Di salah satu sudut perjalanan, di sebelah kiri, saya disuguhi pemandangan sebuah makam (ini niii yang saya lupa tanyakan. Makam siapa. -.-). Di sebelah kanan adalah pemandangan aliran sungai Bantimurung. Ini merupakan finish line dari Bantimurung Rafting. Sensasinya kalau sisi kanan ini berasa di Amazooon. Hahaha.. *Lebay

Sisi kanan berangkat ke Gua, sisi kiri pulang dari Gua.. Kita jalan di pinggirnya deh. Kalo di tengahnya, sakti deh..

Sisi kanan berangkat ke Gua, sisi kiri pulang dari Gua. Kita jalan di pinggirnya. Kalo di tengahnya, sakti yey..

Lokasi Gua Bantimurung ini sangat gelap dan lembab. Mengingat hal yang demikian, sebaiknya terlebih dahulu menyewa senter atau lampu petromaks sebelum masuk ke Gua. Tarif sewa senter atau lampu petromaks sebesar Rp. 10.000 aja kok.
Di dalam Gua Batu ini terdapat dinding gua yang pahatannya mirip kera. Kera dengan posisi duduk memegang (menggaruk) kepala.

Haaiii....

Haaiii….

"Kebayang kan ini aku kayak gimana?" , kata Kera Bantimurung. Udah kebayang blom niii? :D

“Kebayang kan ini aku kayak gimana?” , kata Kera Bantimurung. Udah kebayang blom niii? 😀

Berdasarkan keterangan dari warga sekitar yang bersama saya saat itu, ini adalah Kera Raja Bantimurung. Warga sekitar ini bernama Daeng Tipo. Beliau sudah tua tapi masih kuat naik menyusuri medan-medan tanjakan lhoo. Selain itu, di dalam Gua juga terdapat relief mirip kaki gajah di sisi kanan bawah dindingnya.

Sudah bisa ngebayangin kalo ini kaki gajah?

Sudah bisa ngebayangin kalo ini kaki gajah?

Kalo diliat lebih deket ke bawah. Ini nih penampakan kaki gajahnya.

Kalo diliat lebih deket ke bawah. Ini nih penampakan kaki gajahnya.

Semakin masuk ke sisi dalam gua, terdapat dua batu berdiri berdampingan. Ini yang disebut batu jodoh. Kata Daeng Tipo, konon banyak yang berdo’a sambil menyebut nama dari seseorang yang disuka sambil memegang dua batu itu maka akan segera menikah dan juga dipertemukan jodohnya. Ini tentang jodoh-jodohan deh pokoknya. hehe.. Oleh sebab itu, Gua Batu ini juga dikenal sebagai Gua Jodoh Bantimurung. Untuk ke lokasi memegang kedua batu kita harus memanjat sebagian dinding gua yang cukup curam derajat kemiringannya. Jadi mungkin ini kali yaa bagian usahanya. hehe.. Saya waktu itu memilih untuk tidak naik dan memegangnya, hanya melihat dari bawah. 😀

Pasangan Batu.. Itu kostum entahlah dari sapa. Kata Daeng sih dari dulu itu.

Pasangan Batu.. Itu kostum entahlah dari sapa. Kata Daeng sih dari dulu itu.

Di bagian atap gua ada dinding yang menyerupai akar pohon, dimana seolah-olah kita berada di dalam tanah dan melihat akar tersebut menjuntai ke dalam tanah yang tidak lain berada di atas kepala kita. Bagian ini bisa saya katakan sebagai stalaktit. Ini sempat saya potret tapi entah ke mana rimbanya. Aneh deh. 😦
Di dalam gua ini terdapat tempat duduk pertapaan dari Raja Bantimurung. Raja biasanya bertapa, bersemedi di tempat yang ukurannya pas ketika posisi duduk bersila.

Tempat duduk bersila Sang Raja Bantimurung. Berasa di sanggah duduknyaaa..

Tempat duduk bersila Sang Raja Bantimurung. Berasa di sanggah duduknyaaa..

Setelah itu lebih masuk ke bagian dalam dan terasa sangat private tempatnya. Mengapa private? Karena pada saat masuk, saya harus menunduk-nunduk dengan posisi batu-batu tepat di bagian atas punggung saya. Di lokasi ini terdapat sumber mata air. Daeng Tipo bercerita bahwa Raja menggunakan air ini untuk bersuci sebelum sembahyang. Ritual sembahyang dari Raja bantimurung ini dikenal dengan istilah Shalak. Nah untuk sembahyang, Raja Bantimurung memiliki ruangan kecil tersendiri di bagian yang lebih dalam lagi, tapi tidak jauh dari sumber mata air tadi. Ruangan sempit dengan tanah berpijak yang relatif lebih kering daripada bagian-bagian gua lainnya.

Sumber Mata Air, tempat bersuci Raja Bantimurung.

Sumber Mata Air, tempat bersuci Raja Bantimurung.

Tempat Raja melakukan 'Shalak'.

Tempat Raja melakukan ‘Shalak’.

Gua Batu ini masih sangat alami. Ini ditunjukkan dengan masih banyaknya koloni kelelawar yang tinggal di dalamnya. Selain itu di dinding gua juga terlihat jelas pancaran kerlap-kerlip yang menandakan masih tingginya kandungan mineral di dalamnya. Kerlap-kerlip di dinding gua ini menurut sepengetahuan saya adalah kandungan Kalsium karbonat dan kandungan mineral lainnya dari gua kapur.

Bagian dalam gua.

Bagian dalam gua.

Liaattt ada batman!! hahaha.. Kerlap kerlip itu pada keliatan?

Liaattt ada batman!! hahaha.. Kerlap kerlip itu pada keliatan?

Sesuatu (Berkas Cahaya) yang Tersembunyi di Balik Mata Air dan ‘Shalak’

Saat Daeng Tipo bercerita tentang mata air atau sumber air di dalam gua yang digunakan Raja Bantimurung bersuci sebelum melakukan sembahyang yaitu ‘Shalak’. Tiba-tiba otak melakukan sinkronisasi istilah secara harfiah yang diterima telinga. ‘Shalak’ tidak jauh dari istilah ‘Sholat’. Raja Bantimurung bersuci sebelum sembahyang dengan membasuhkan air dari sumber air tersebut ke beberapa bagian tubuh, salah satunya ke bagian muka dan tangan. Ini sama halnya dengan saya yang seorang muslimah. Ketika muslim/muslimah hendak melakukan sholat, terlebih dahulu harus mensucikan diri dengan berwudhu. Membasuhkan air ke muka, tangan dan bagian tubuh lainnya yang termasuk dalam rukun wudhu. Apakah ini termasuk metode penyebaran Islam terdahulu? Entahlah. Ini opini saya berdasar cerita beserta wujud tempat yang saya terima, selebihnya Wallahu a’lam.

Kisah Helm dan Penolak Bala

Assalamu’alaikum..
Shabaahul Khair!! Bonjour!!

Baiklah, postingan hari ini saya awali dengan berbagi kisah deh ya. How Shadaqah work so well.. Kemaren siang bener-bener pelajaran berharga bagi saya. Kenapa? Gimana ga coba. Saya selamat dari jatuhnya bambu super. Bambu super buat bersih-bersih. Buat renovasi. Buat apa saja deh itu. Seonggok bambu super panjang dan besar yang biasanya digunakan untuk renovasi, juga sebagai alat bantu kalau kuasnya kecil bakal ada itu deh, atau kalau bersih-bersih langit-langit rumah super tinggi nah itu sapunya pasti pake bambu super itu. Bisa bayangin kan itu bambu panjang dan kali ini lumayan gendut sodara-sodara. Mak “Jedduuk!” jatuh tepat di atas kepala saya. Untungnya cuma satu. Masih untung lah ya daripada semua sebesi-besinya yang ada di tempat yang sama juga jatuh. Masya Allah *nangis*. Dan lebih beruntungnya lagi saya saat itu posisi sudah mengambil dan memakai helm dengan benar, gara-gara mau pergi. Syukur Alhamdulillah, indahnya skenario Allah. Entah gimana jadinya kalau misal saya belum memakai helm. Kayaknya berdarah-darah ini kepala. Subhanallah walhamdulillah walailaha ilallah wallahu akbar.

Mungkin kebanyakan dari kita bisa dipastikan bakal “Ya udahlah. Alhamdulillah ga kenapa napa”. Kalau saya pasti setelah kejadian mikir deh itu bawaannya. hahaha.. Apa mungkin gara-gara saya orangnya tipe pemikir dan cenderung menganalisa segala hal dan kejadian? Bisa jadi mungkin. Otak mulai mencari di tumpukan berkas memory. Tiba-tiba yang muncul adalah tentang penolak bala. Yak salah satu keutamaan sedekah/shadaqah! Jadilah saya inget akan pengeluaran gila-gilaan bulan ini. Memang sudah niat dari awal sebelum ada income, minta ke Allah dikasih jalan buat shadaqah super ke tempat yang super tepat. Ga lama datanglah kabar berita duka dari teman lama ayah saya di desa. Teman masa kecil yang masih terhitung kerabat. Teman masa sebelum ayah saya merantau. Latar belakang serta keadaan keluarga yang ditinggalkan membuat tekad bulat pepat saya tadi berujung tujuan. Keluarlah 20% dari income saya bulan ini menuju ke keluarga almarhum teman lama ayah saya. Satu yang saya belajar dari ayah saya, rendah hati yang super. Beliau hanya ingin meniru perbuatan yang diajarkan Rasulullah. “Semua titipan. Kamu jangan ‘lupa’.”, itu wasiat ayah. Kalau dilihat dari jumlah atau besarnya, mungkin bakal ’eman’. Kok ya dikasih ke orang padahal kita masih butuh banyak. Tapi kalau dipikir lagi sekarang, jumlah shadaqah itu ga ada bandingannya sama kepala saya yang Alhamdulillah ga kenapa-kenapa. Masya Allah ngeri sodara-sodara. *nangis sejadi jadinya*
Bukankah shadaqah terbaik adalah saat kita dalam keadaan sempit? Bukankah kalo kita sudah terbiasa maka dalam keadaan apapun akan melakukan hal yang sama? Demikian juga dengan shadaqah. Kita masih muda. Terus nunggu tua dulu baru membiasakannya gitu? Terus nunggu gaji besar buanget dulu baru melakukannya? Ga kok. Kita bisa mulai dari sekarang. Dari pendapatan sekecil apapun. Semua dari kebiasaan. Islam mengajarkan kita berbagi kan? Yuk deh! 😀

“Sedekah yang paling utama adalah saat kamu dalam keadaan sehat, takut miskin, dan menginginkan kekayaan.” (HR. Bukhari)

Allah berfirman :

” katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman : “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim : 31)

Pemberlakuan sedekah/shadaqah itu juga seperti pola obat nyamuk bakar. Dari dalam dulu lalu menuju keluar. Perhatikan dahulu saudara-saudara kita, kerabat-kerabat kita apa masih ada yang kekurangan? Kalau ada, dahulukan. Lalu berikutnya keluar.

“……….akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 177)

I Called It “Icon Kota Jakarta”

Salut, mes amis bien-aimés!! hehehe..
This is my night artwork. I made it for my best friend birthday on that moment. It’s been a year a month ago. I named it “Icon Kota Jakarta”. It was my collaboration with my pencil, coloring pencils, paper, scissors, my thought, my words, and my imagination. :p Tarraaaaa…… This is it! “Icon Kota Jakarta” 😉 The artwork well done. It ready affixed with the glue on another paper as a postcard.

This is it! "Icon Kota Jakarta" ala Ms. Aprilia Zuliharti. ;)

This is it! “Icon Kota Jakarta” ala Ms. Aprilia Zuliharti. 😉

But I don’t have any documentation for the final postcard. 😦
It just because of my old laptop’s internal hard disk was broken. All gone. Haish.

To : My Beloved ‘dirimu’ dan ‘kalian’

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismillah.. Sudah sepantasnya semua dimulai dengan basmalah. Apalagi ini adalah surat untuk orang-orang tercinta. Surat ini juga mungkin bisa jadi jembatan antara pemikiranku, hatiku dan kalian. Pertanyaan akhir-akhir ini yang kembali mencuat ke permukaan setelah sangat lama tenggelam. “Kamu masih sama dia?” “Loh? Kenapa sih?” hingga statement yang sifatnya justifikasi sepihak yang tak terbukti adanya “Kayaknya kamu ni yang ga bisa bertahan. Temen cowokmu banyak sih. Banyak yang suka pula.”, aku hanya bisa tersenyum mendengarnya dan menjawab dengan nada bercanda “Jelas donk! Fans-ku kan banyak. B-)”. Sebenarnya ketika hinggap pertanyaan sedemikian rupa aku tak ingin menjawab apa-apa. Aku hanya berkata “Sudaaaaahhh…..”, hanya tak ingin terhanyut kembali ke masa lalu. Semua sudah berlalu dan harus menatap lembaran baru. Kenapa kok sampai ada justifikasi sepihak demikian? Jawabannya adalah karena aku tidak ingin menjawab. Menurutku ini urusan kita. Urusan milik kita yang terlibat langsung di dalamnya. Loh kan sudah putus? Menurutku yang terputus adalah fase yang tidak diridhoi-Nya bukan silaturahimnya. Bukan begitu bukan? Nah, dulu aja kita tutupin. Masa sudah ‘bubaran’ mau diumbar ke mana-mana? I’m not a kind of that type. Kapan pun ketika itu masalah kita, ya tetap akan jadi ranah kita, entah itu sampai kapan saja. Aku hanya tidak ingin dari kalian ada yang berubah sikapnya pada orang tersebut atau padaku. Mungkin ketika sharing pun aku akan sangat hati-hati dengan hanya mempercayai beberapa orang, satu-dua saja yang memang tidak akan berubah sikapnya pada siapapun yang terlibat langsung di dalamnya. Aku hanya menjaga kebaikan dari nilai silaturahim. Baiklah ini sudah cukup menjawab kan kawan-kawan dan saudara-saudaraku?

Okay, sekarang masuk pada pertanyaan kalian berikutnya “Kamu sudah punya pacar ya?”, “Kamu kok gak sedih? Biasa aja malah!”. Jawabanku tegas dan jelas adalah :

AKU MENJAWAB “YA” UNTUK PUTUS, HANYA KARENA ALLAH
AKU MENCOBA MELANGKAH DENGAN LANGKAH DI JALAN TERBAIK MENURUT ALLAH

SEDIH? Bohong kalau aku berkata tidak. Tapi ini keputusanku untuk kembali ke jalan-Nya secara (mungkin) total. Semua hanya titipan Allah. Ketika hilang, ya sudah. Tak usah diratapi terlalu dalam. Yaa hakikatnya ini hanya titipan. Titipan yang belum diridhoi-Nya, bahkan bisa jadi tidak. Tapi jika orang tersebut yang diridhoiNya maka akan dipertemukan kembali pada fase yang benar menurutNya. Ini pikirku. Ini bisa jadi, jawaban dari do’aku selama ini. Do’a yang tak pernah putus dimunajatkan setelah sholat fardhu kemudian sunnah rawatib dan ketika setelah berdiri-sujud di sepertiga malam-Nya. Agar rahmat-Nya tak pernah putus untukku, agar aku bisa menjadi anak shalihah yang menjadi amalan tak terputus bagi kedua orang tuaku serta menyelamatkan kedua orang tuaku kelak ke Syurga-Nya, agar azab-Nya yang tak sanggup aku terima tak mampir padaku, agar pundakku dikuatkan dalam menerima tanggung jawab dariNya, agar aku selalu berada dalam dekapan indahnya Iman dan Islam, agar aku selalu bermanfa’at untuk sesama, lalu mengembalikanku kepadaNya dalam keadaan khusnul khotimah ketika waktuku tiba. Begitu juga untuk orang yang kusayang. Ini bisa jadi jawabannya. Allah pemilik hati manusia. Allah yang berkehendak dan mampu membolak-balikkan hati manusia. Sekarang aku hanya ingin fase yang benar menurut-Nya. Fase berteman, ketika maksud serius (berniat) menegakkan setengah dien bersama maka ta’aruf, khitbah (melamar), lalu nikah. Tak ada lagi fase pacaran. Ga pacaran?? Membeli kucing dalam karung?? Ini paradigma tidak benar yang entah dihembuskan oleh siapa. Tentulah tidak. Andalkan Allah dalam setiap fasenya. Tidak ada yang mengenal manusia lebih dekat kecuali Penciptanya, Allah SWT. Kalaupun ada, itu pasti placenta. Allah akan memberi kita petunjuk dengan berbagai cara. Manusia hanya perantara-Nya. Ada manusia lain di dekatnya, di dekat kita bahkan dekat sekali jaraknya tersebar dalam berbagai lingkup dan ranah. Gunakan logika kita pada fase-fase ini untuk memilih cara efektif bagaimana mengenal sesosok manusia yang bisa jadi dia pilihan kita. Dia yang mencintai Allah, akan sadar untuk mencintai apa yang diberikan Allah kepadanya, menjaga sebaik-baiknya, menjaga yang dia pilih berdasarkan yang dipilihkan Allah untuknya, untuk menjadi tanggung jawabnya. Setia padamu karena Allah, karena Allah cinta di atas segala cinta.

“Don’t love the one who doesn’t love Allah. If they can leave Allah, they’ll leave you.” (Imam Syafi’i)

Teruntuk ‘dirimu’ calon suamiku yang aku pun belum tau. Aku masih menanti dirimu di sini. Jika dirimu memang yang tertulis di Lauhul Mahfudz-ku, semoga kita segera bertemu. Segera, bukan berarti terburu-buru. Segera, ketika dirimu sudah memenuhi syarat yang dirimu buat sendiri. Aku pun demikian. Segera, ketika lahir, batin, sektor finansial, maupun non finansial kita ‘pantas’ untuk menyegerakannya. Ketika waktu terbaik kita telah tiba. Aku di sini masih memantaskan diri untuk menjadi lebih baik bagiNya dan bagi dirimu. Terus berusaha memantaskan diri untuk menjadi istri shalihah yang terbaik bagi dirimu, penenteram hatimu. Terus berusaha memantaskan diri untuk menjadi seorang ibu yang melahirkan dan membimbing anak-anak shalih dan shalihah nan hebat prestasi dunia serta akhiratnya. Anak-anak yang mampu menenteramkan mata serta hati kedua orang tuanya. Anak-anak yang bermanfa’at bagi sesamanya. Sakinah diupayakan dalam usaha dan do’a agar Allah berkenan menghadirkannya. Dan aku ingin mengupayakannya bersama dirimu. Setia kepadamu. Seseorang yang dipilihkan Allah untukku, dari sisiNya bukan dari sisiku. Aku manusia, Dia yang Maha bijaksana lagi Maha Sempurna. Jaga dirimu yaa.. 😀

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

DEW DROPS IN THE MIDDLE OF THE CROWD…

Hi fellas! Here I come. Fiuh, finally I can comeback here to share and write on this site. I was trapped on the denseness of activities to prepare my final test or degree test. Not only that but also two weeks after I past it. Alhamdulillah, I past my final test so well.. 😀
Okay, back to the story I wanna share with you fellas. 19th February at Monkasel (Monumen Kapal Selam) Surabaya, the story goes. My watch showed me 10 am at that moment. It means that we had to start make some fun with our street friends. 🙂
This was an event which were supported by Hijabee Surabaya and SSC (Save Street Child) Surabaya, and I’m part of that community. The aim of those event is to share love and fortune. In my point of view, we are the fortunate should share ours with the less fortunate. They are us, human. Realize it fellas! 😉
On those event our ‘lil street friends was looking around in the submarine, coloring the drawing, watching diorama of our nation submarine history because our nation is maritime nation **Hhhmm., wait. What the English of Diorama..?? *Think.* Maafkan sayaaa.. Hayooo yang bisa jawab angkat tangannyaaa..! 😀 #QuestionFellas :D, hhmmm diorama is a three dimension thing which can describe the situation or landscape of history, nature, nation, or city for education perform..That’s all I know..hehe.. 😀 Okay lets continue mention the run down. After watching diorama, then ice cream time, and giving the present from us. In all of activities I could reach the spirit of our ‘lil street friends. Some of them have amazing creativity (it was showed on the coloring the drawing time). They could apply gradation technique on their drawing. It’s amaze me! Wow! Fabulous! I could see the firework of them. The never ending spirit of living the life, their own life. Oh yup, the point that you should know that on this event some of our ‘lil street friends brought their own drawing equipment such a crayon and so on, even though we had been preparing it all for them. Wow, what the amazing spirit, right?!! During that activities I accompanied them to color their drawing. Sometimes they asked me what the suitable color for the skin, for the uniform on that drawing and many more question. In this activities they learned how to be patient and share the equipment on their teammate.. 🙂
So, Me and mas Nanta who accompanied on the same team often to say “Hayooo.. Sabaaarr.. Gantian..” while we were helping them to sharpen the color pencil.

Ayooo yang bagus yaaa.. Biar dapet hadiah banyak.. 😀 -Coloring the drawing session-

***********************************************************************************************

Yeay, ice cream timee..!! Okay, Let me introduce you the special one, fellas. 😀 Her name is Putri. I learned about the gratitude of this ‘lil girl. She is about 5th or 6th years old. She was enjoying her ice cream so much, and I asked to her :
“Putri makan apa..?”
“es gream..”
“Ice cream.. *slow down and made it obvious in order to be followed* apa Put?”
“Es Cream..” *not bad* 😀
“Pinter.. Itu ice cream-nya rasa apa Put? Yang warna pink?”
*shrugged* It means that she never know about the name of the taste before, that all she know were the colors.
“Yang pink itu rasa strawberry.. Yang atasnya, yang warna coklat itu rasa coklat.”
“Stroberry sama coklat..” *she said with her childlike face*
and theeennn actually she said something and not to whisper “Mbak pipis.” 😀
hahahaha.. The effect of that ice cream was so fast..
Okay. Let us think! How lucky we are in our childhood we knew about the name of every food and drink that we tasted. It’s all about early childhood education. How lucky we are who were fulfilled with the best early childhood education from our beloved parents. 🙂

Yeiy, finally ice creaamm.. \\(^o^)/

“Mbak, wes habis.” Another ‘lil sound called me.
*looked over to the childlike face* *That ‘lil girl showed the ice cream’s stick that no ice cream on it. It was up.*
Yup., this was another ‘lil girl. Her name is Maya.
“Sini Maya. Buang di tempat sampah ini yaaa..” *showed the trashcan*
*nodded and then threw the stick away to the trashcan*
“Pinter..” *give the thumbs up*
*big grinned*

A lot of things that I can learn on that day. Sharing, throw away our selfishness, patient, and the precious is learning about parenting… #Loh..?? #Ups hahahaha… -> Just kidding fellas.. 😀

Are we the human, we aren’t..?? So, let’s share our fortune world with the less fortunate.
Are we in the same earth, right? We share the same air to breath. We share the same bright sun and the same round moon..Is that right, isn’t that? Why we won’t to share our love and little fortune for another?

Let’s act! Let’s share ours. As any of us would mean for them.. 🙂

That’s all I learned from the crowd. The crowd of the street. The crowd of the city, Surabaya..

Stand up for the humanity.. 🙂

Walking hand by hand.. Together. We Can! #Human 🙂

RULLY DALAM KONSPIRASI

Rully, 40 tahun berkawan nisan
nisan dari China berdiri gagah dan berbaris rapi
rapi, serapi mimpi merasuk diri, terkonselasi di kepala Rully
mimpi merayap, menduplikasi diri, hidup di deras aliran merah
merah yang terdiri dari empat anggota, bukan lima
masing-masing punya nama, nama ilmiah katanya
Mimpi bukan parasitosit
bukan juga gulma yang hendak menumpang makan
ia pemimpin pancaran cahaya
spektra dari bumi yang memancar keluar hingga menerangi taramnya sudut kosmos di sana
spektra itu yang tinggalkan biasnya
Rully, tak tahan tuk segera menjadi besan
besan dari teori dan segala bidang keilmuan
Seribu perak maharnya
ia hendak nikahkan anaknya dengan ilmu dari stensilan
ia bukanlah adam, jadi ia bukan walinya
Seribu perak maharnya
Rully ingin kenalkan anaknya pada Issac Newton serta Batista Della Porta
agar anaknya tau apa itu jagat raya
terbang bersama mimpi, hingga gravitasi tak peduli padanya
Seribu perak maharnya
mahar yang berarti bagi nafasnya
mahar dari berotasinya si kaki tiga, sahabat setianya
konspirasi klise bergulir sejak lama
Rully, mimpi, kaki tiga, dan do’a
aku dan Lucretius di sini duduk bersama
berpikir tuk sampaikan bait cerita
sampaikan pada pujangga tertinggi di tahta-Nya tentang asa, do’a yang tak pernah aus bulirnya

How Strong Your Magnet?

“Marhaban yaa Syahru Ramadhan…”

Kalimat yang mewakili hari itu hingga hari ini. Saat itu, kalender mengerlingkan mata tuk menarik perhatian, “Hey, kamu H+3 Insya Allah udah puasa lho.. Udah waktunya berhadapan pada pertapaan untuk interospeksi lebih dalam pada diri.”, ia berkata mengajak untuk melakukan conference dengan sajadah, curahan, serta Sang Pencipta lebih dekat, lebih dalam dari biasanya, dan akhirnya kuturuti. Kalender puas dan berkata dalam bahasa Melayu “tak sia-sia awak nak merajuk”. Banyak hal di hari itu yang awalnya membuat hati gundah, marah. Tumpukan amarah dari waktu lalu lebih tepatnya. Mungkin natrium cemburu ketika melihat aku marah. Tak pernah marah, tetapi sekali marah kukalahkan letupan natrium yang bersentuhan dengan air, bahkan asam nitrat yang bereaksi dengan oksigen pun kalah. Tetapi asam nitrat denganku agaklah berbeda. Kali ini aku tidak dapat merasakan oksigen. Sesak.

Tak mau berkubang terlalu lama pada amarah dan teringat seketika kalimat yang pernah ayah ucapkan padaku dulu, yang berasal dari saran Sang Murobbi, Rasulullah Muhammad SAW, “Kalo kamu marah mending ambil air wudhu dan bergeraklah.” Ya, hal yang sering disarankan oleh ayahku ketika anaknya marah adalah berwudhu dan tadabbur Qur’an. Biar tenang alih beliau.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW., “Berwasiatlah kepadaku,’ Beliau bersabda, ‘Jangan marah.’ ‘Beliau mengulanginya hingga beberapa kali, seraya bersabda. ‘Jangan marah’. (HR. Bukhari)

Saran segera dilaksanakan. Amarah mulai berada pada batas normal dan mendekati batas merah yang kemudian hilang tak memberi tanda. Sajadah selalu jadi saksi bisu, teman setia yang tak pernah lupa menemani.
Malam itu, sepertiga malam yang tak biasa. Sempat takut diri ini dibuatnya. Imajinasi mengambil alih. Merajut khayalan yang tak pasti dan akhirnya menimbulkan rasa takut tuk melangkah ke luar, membasuh, mensucikan diri sebelum asik masyuk dengan Sang Pencipta diri. Bahaya!!
Aku merampas space, mengusir imajinasi aneh itu. Melangkah daaann… TETAP. SEPI. HENING. Aroma yang kurasa setiap sepertiga malam. Ini sangat berbeda dengan di sana (baca : my beloved old boarding house) dan di rumah. Sepertiga malam, aku tak sendirian. Teman sejawat melakukan hal yang sama. Apalagi di rumah. Tak diragukan lagi, aku tak hanya ditemani sajadah, tapi semua penghuni rumah. Tetapi saat ini berbeda, dan benar-benar berbeda. Signifikan, kata itu mungkin yang dapat mewakili perubahan yang ada. Serasa sendiri. “Ah, sudahlah. Mungkin ini ujian kesabaran berikutnya tuk tetap berdiri pada kuadran ini. Nanti saat Ramadhan akan berbeda kok dan pasti mulai terasa animenya.”, hati merajuk dan meyakinkan diri.

Hari ini, hari pertama ibadah Tarawih. Aku merasa akan ada kawan untuk pergi ke masjid bersama. Setelah beraktivitas bersama kawan-kawan tercinta dan orang tercinta untuk sejenak melepaskan lelah dan “refresh our mind” dengan berpergian ke tempat wisata, tiba waktu untuk bersiap ke masjid. Tarawih tentunya. Aku tak mau banyak berharap di hari pertama Tarawih. Tidak hanya di hari pertama Tarawih sich, tapi almost everytime. Itu sebabnya aku hampir selalu berdiri sendiri, karena menurutku seseorang terkadang tak berdiri di tempat, kondisi, situasi dan kadar semangat yang sama. “MANDIRI”, ini maksud hati dan diri. Tak jarang kawanku mengatakan “pergi sendiri, kayak anak ilang”, “bakat nukang” lah. Terserah, pikirku. Ketika aku memperbaiki apapun sendiri. Aku menganggap itu bahan latianku. Bagaimana ketika suamimu kelak ke luar kota sementara di rumah harus ada yang dibenarkan? Apakah menunggu???? Sampai kapan??? Apa memanggil orang lain? Sampai kapan bergantung pada mereka? Kalau itu terjadi di waktu yang tidak memungkinkan orang untuk masuk ke rumahmu, sementara itu harus segera diselesaikan. Bagaimana???? “Selesaikan sendiri selagi kamu bisa. Kalo mentok njedok notok gak bisa baru minta tolong.”. Itu kuadran yang aku pilih dan tinggali.

Sepi. Menapaki jalan, melewati deretan rumah megah yang berjajar dalam komplek. Ya, aku sendirian menuju masjid di kawasan komplek di mana aku tinggal saat ini. Menyusuri sepinya komplek, tak masalah bagiku. Kuatnya magnet kuadran yang kupilih dan tinggali, mungkin itu kekuatan keberanianku. Rasa syukur mulai membelenggu. “Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk bisa istiqomah”, bisik kecil dalam hati. Sepulang dari masjid. Seperti biasa, “It’s Tadarus Time..!!”, jerit hati memercikkan semangat. Tapi percikan itu hampir reda dan hilang karena kali ini aku bertadarus seorang diri. Pikiran mulai melayang, mengumpulkan serpihan kenangan di “markas besar Papino Castle (sebutan my old boarding house)”. Di sana di mana tadarus aktif dilakukan, yup kamarku adalah markas besar diadakannya tadarusan. Sholat jama’ah yang biasa kita sebut “nge-masjid” juga dilakukan. Ruang tv disulap menjadi mushola dadakan, lengkap dengan daftar fiktif para imam. Ketika jama’ah mulai berkurang nge-masjidnya pindah dari ruang tv ke kamar seorang kawan, sebut saja mbak Coy. 😀
Tapi inilah tantangan yang dihadapi. Sekarang adalah waktu untuk novel “Who Moved My Cheese” karya Dr. Spencer Johnson yang pernah aku baca, mengambil peran.
It’s all about change.
Dan pelajaran yang aku dapatkan pada halaman buku kehidupan dunia kali ini adalah :

Kita adalah kita dengan dikelilingi perubahan. Tapi kita memiliki kuadran yang kita pilih dan menjadi lahan berpijak. Kekuatan magnet antara kita dan kuadran adalah kekuatan untuk menjalani perubahan.

Nb : **Kuadran sama halnya dengan prinsip di sini, kawan.. 😉

Kalender

June 2017
M T W T F S S
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Pilih-pilih Kategori :

Yahoo Messenger :

Twitter of Author :